Mengatasi parasit dalam akuakultur

Serangan parasit pada suatu usaha budidaya ikan menimbulkan dampak negatif yang cukup tinggi. Apabila tidak ditangani segera tidak tertutup kemungkinan terjadi infeksi sekunder oleh patogen lain seperti bakteri dan virus misalnya melalui luka yang ditimbulkan olehnya. Memahami etiologi dari dari parasit amat penting untuk menentukan jenis pengobatan ikan yang tepat. Peralatan yang diperlukan hanyalah mikroskop cahaya beserta pengetahuan tentang morfologi dan taksonomi dari si parasit.

Dalam memulai pemeriksaan sebaiknya diperiksa bagian luar tubuhnya, apakah terdapat makro parasit seperti lintah ataupun organisme dari jenis crustacea. Sebagai tambahan infestasi cacing trematoda bisa juga terlihat dari kulit tercirikan dari gumpalan putih. Selanjutnya pemeriksaan ikan dapat dilanjutkan dengan mengeruk kulit dan insang ikan. Setelah itu sampel bisa diperiksa pada mikroskop dengan magnifikasi 40x atau 100x.  Pada magnifikasi ini akan terlihat apakah ada organisme renik dari bentuk ataupun gerakannya seperti protozoa ciliata (misal Trichodina), cacing parasit monogenea, ataupun yang lain.

Apabila parasit telah diketahui maka langkah selanjutnya adalah menentukan seberapa parah serangan parasit dengan menentukan jumlah parasit per ikan. Bila detemui parasit dalam jumlah sedikit sebetulnya masih dianggap wajar dan tidak mengganggu proses akuakultur. Bila jumlah parasit yang menyerang ikan sangat banyak maka perlu dilakukan tindakan lanjutan demi menghindari kematian pada ikan² yang lain.

Pemeriksaan parasit yang rutin tentunya adalah bagian yang penting dari manajemen kesehatan ikan dan jika memungkinkan dilakukan secara reguler. Penting sekali untuk mengetahui jenis² parasit penting yang menyerang ikan karena akan menentukan metoda pengobatannya kelak. Sebagai contoh, parasit penting yang menyerang pada ikan Nila dapat dibagi dalam beberapa kelompok antara lain: ciliata protozoa, dinoflagellata, monogenea, digenea trematoda, copepoda crustacea dan hirudidae.

Parasit adalah bagian dari ekosistem. Ada beberapa faktor yang menentukan prevalensi dan tingkat serangan dari parasit. Faktor-faktor ini terkait dengan faktor biologis ikan dan juga faktor lingkungan.

Faktor Biologis

  • Umur: Umur ikan menentukan kerentanan ikan terhadap parasit. Ikan yang lebih muda lebih rentan terhadap parasit dibanding ikan dewasa. Sebagai contoh benih ikan sangat rentan terhadap parasit protozoa.
  • Stress: Kolam budidaya yang terlalu padat atau kolam yang mengalami perubahan kualitas air dapat berdampak terhadap timbulnya stress pada ikan. Tingkat imunitas pada ikan dapat menurun bila ikan mengalami stress sehingga ikan lebih rentan terhadap penyakit. Ikan yang lemah akan mengalami serangan parasit yang meningkat dan mungkin akan terjadi serangan sekunder oleh patogen lainnya seperti bakteri atau virus melalui jaringan kulit yang rusak.
  • Nutrisi: Jika ikan ikan tidak memiliki nutrisi yang cukup maka sistem kekebalan akan menurun dan tidak dapat mentolerir keberadaan parasit. Pakan pada awal hidup ikan sangat penting untuk membantunya selamat dari serangan parasit.
  • Tingkat Kepadatan yang tinggi: Tingkat kepadatan ikan yang tinggi mampu menimbulkan stres dan peluang menyebarnya parasit. Transmisi langsung dari ikan ke ikan digunakan oleh protozoa ciliara dan trematoda monogenea. Sangat lebih mudah bagi parasit untuk menemukan inang pada kolam yang padat ikan dan hal ini memungkinkan parasit untuk berkembang secara pesat.

Faktor Lingkungan:

  • Salinitas: Beberapa jenis parasit hanya dapat hidup pada air tawar sebaliknya beberapa jenis hanya bisa hidup pada air yang bersalinitas tinggi (air laut). Salinitas adalah faktor penting dalam serangan suatu parasit yang spesifik. Misalnya beberapa spesies Trichodina hanya dapat mentoleransi air tawar dan akan mati bila salinitas air meningkat sebanyak 5 ppt.
  • Kualitas air: Kualitas air yang buruk semisal amoniak yang tinggi, oksigen terlarut yang rendah, kandungan bahan organik yang tinggi dan keberadaan bakteri akan menciptakan lingkungan hidup yang kurang baik bagi ikan dan menimbulkan stres.
  • Jenis sistem akuakultur: Tiap jenis sistem akuakultur mempunyai karakter yang berbeda. Sistem akuakultur seperti keramba yang menampung ikan dengan jumlah yang banyak akan sangat mendukung bagi transmisi ektoparasit yang mempunyai siklus hidup langsung. Kolam tanah adalah lingkungan yang lebih kompleks dimana parasit seperti copepoda krustacea dapat bereproduksi di sela tanaman air. Lumpurnya sendiri bisa menjadi reservoir untuk dinoflagellata seperti Amyloodinium atau invertebrata sebagai inang perantara dari digenea trematoda. Semakin besar kolam maka semakin sulit untuk mengatasi populasi parasit.

bersambung

6 Responses to “Mengatasi parasit dalam akuakultur”

  1. wah kudu loba nongkrong didieu yeuh,
    cita cita hayang bisa mijahkeun lauk buruk
    ulah lauk buruk milu mijah wae
    hehehheheh

  2. Nach itulah masalah yang sering kami hadapi.
    Gurameh yang kami pelihara sering kena penyakit kulit gitu…
    Kebanyakan penjual ikan di tempat saya bilangnya penyebab terbesar dr masalah tsb adalah pelet dan stress.
    Ditunggu sambungannya bro…

  3. susahnya parasit itu pasti ada terus di air kolam (macam virus influenza gitu), jadi mendingan kita bersahabat aja kaliee… kalo ikannya punya stamina bagus dengan pakan dan lingkungan yang memadai, parasitnya bisa nyerah!!!
    Lanjutin atuh tulisannya, kang!!!!

  4. Kumaha damang ?
    Didieu mah anteng we ngurus binih kerapu, ka dulur sakumna dunya bilih aya nu peryogi tiasa email ka sim kuring (punten ah iklan kang) ….

  5. lanjutan na mana tong lami teuing

  6. lanjutannya sebenarnya ada tetapi di OHP nih bahannya.. di Powerpoint mah banyaknya gambar wungkul..

Leave a Reply